– Apakah orang seperti itu bisa disebut Muslim?
Saudara kami yang terhormat,
Seorang mukmin yang sadar tidak akan pernah mencintai sesuatu lebih dari Allah dan Rasul-Nya (saw).
Namun, memahami dan merasakan proporsi ini tidak selalu mungkin. Oleh karena itu, setiap mukmin setidaknya harus berpikir dan menerima dalam dirinya, niatnya, pikirannya, akalnya, dan hatinya, bahwa ia harus mencintai Allah dan Rasul-Nya (saw) lebih dari apa pun, dan bahwa ia memang mencintai-Nya lebih dari apa pun.
Yang benar adalah, mencintai Allah dan Rasul-Nya (saw) berkaitan dengan mengenal mereka dengan baik.
Seseorang yang merenungkan nikmat-nikmat Allah yang tak terbatas, wajib mencintai Allah dengan cinta yang tak terbatas. Mencintai Nabi Muhammad (saw), yang memperkenalkan Allah kepada kita, yang membawa ajaran Islam yang menghasilkan kebahagiaan dunia dan akhirat, yang memberi kabar gembira tentang surga yang berisi kebahagiaan abadi setelah kematian, lebih dari apa pun selain Allah, adalah perintah hati nurani.
Perlu juga dicatat bahwa manusia tidak selalu dapat mengingat Allah dan Rasul-Nya (saw) serta menunjukkan kasih sayang mereka kepada-Nya. Kelelahan, kesibukan duniawi, dan pengaruh suasana hati yang berbeda dalam keadaan susah dan senang dapat menghalangi manifestasi kasih sayang yang sempurna ini. Keadaan-keadaan ini tidak merusak iman orang yang lalai, tetapi berarti kesadaran yang keluar dari iman tersebut, meskipun sementara, menjadi tidak aktif.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Majah, Nabi Muhammad (saw) bersabda:
“Hingga salah satu dari kalian mencintai-Ku lebih dari anak-anaknya, orang tuanya, dan semua manusia.”
-secara harfiah-
tidak mungkin telah beriman.”
(lihat Kenzu’l-Ummal, h. No: 70).
“Katakanlah: Jika ayah-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluarga dan kerabatmu, harta yang kamu kumpulkan dengan susah payah, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah yang kamu sukai, lebih kamu cintai dan lebih penting daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah menurunkan perintah-Nya! Allah tidak akan memberi hidayah kepada kaum yang fasik itu dan tidak akan mencapai apa yang mereka harapkan.”
(At-Taubah, 9/24)
Salam dan doa…
Islam dengan Pertanyaan-Pertanyaan